JAKARTA - Upaya percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di wilayah Sumatera menunjukkan perkembangan signifikan.
Pemerintah memastikan fasilitas layanan kesehatan yang sempat terdampak kini kembali berjalan. Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan, seluruh rumah sakit yang terdampak bencana Sumatera telah beroperasi kembali.
Sebelumnya, setidaknya ada 130 rumah sakit operasionalnya terkendala akibat bencana yang menerjang Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar) pada akhir November 2025.
Gangguan tersebut berdampak pada pelayanan medis, baik rawat jalan maupun rawat inap, sehingga membutuhkan percepatan pemulihan agar masyarakat tetap mendapatkan akses kesehatan yang memadai.
"Dan sampai saat ini, semuanya sudah bisa beroperasi," ujar Budi.
Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa pemerintah memprioritaskan pemulihan sektor kesehatan sebagai bagian penting dalam proses rehabilitasi wilayah terdampak bencana.
Tantangan Pemulihan Alat Kesehatan
Meski seluruh rumah sakit telah kembali beroperasi, Menkes menjelaskan bahwa beberapa di antaranya belum sepenuhnya optimal dalam memberikan pelayanan. Kondisi tersebut terjadi karena sejumlah alat kesehatan mengalami kerusakan akibat dampak bencana.
Kerusakan alat kesehatan membuat pelayanan medis tertentu belum bisa berjalan maksimal. Beberapa tindakan medis yang membutuhkan peralatan khusus harus menunggu proses perbaikan atau pengadaan ulang.
"Alat ini juga sudah kita ajukan anggarannya, tapi sambil menunggu, banyak sekali yang melakukan donasi, semua komponen masyarakat, kita silakan langsung," ujar Budi.
Pemerintah telah mengajukan anggaran untuk mengganti dan memperbaiki alat yang rusak. Sambil menunggu realisasi anggaran, dukungan masyarakat dalam bentuk donasi turut membantu mempercepat pemulihan fasilitas yang terdampak.
Langkah kolaboratif ini dinilai penting agar pelayanan kesehatan tidak terhenti terlalu lama dan masyarakat tetap memperoleh layanan medis yang dibutuhkan, terutama di daerah yang sebelumnya terdampak cukup parah.
Dampak Terbesar pada Puskesmas
Selain rumah sakit, fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas menjadi yang paling terdampak akibat bencana di tiga provinsi tersebut. Data menunjukkan setidaknya ada 867 dari total 1.265 puskesmas yang berhenti total akibat bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar.
Angka tersebut menunjukkan besarnya dampak bencana terhadap layanan kesehatan dasar masyarakat. Puskesmas memiliki peran vital sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan, terutama bagi masyarakat di daerah terpencil dan pelosok.
Per 10 Februari, tinggal dua puskesmas yang belum pulih, yakni Puskesmas Lokop di Kabupaten Aceh Timur dan Puskesmas di Jambur Lak Lak, Kabupaten Aceh Tenggara.
"Fasilitas kesehatan yang lebih parah adalah puskesmas. Dan sampai saat ini tinggal dua yang belum beroperasi karena hancur," ujar Budi.
Dua puskesmas tersebut mengalami kerusakan berat hingga hancur, sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk proses pembangunan kembali. Pemerintah terus berupaya mempercepat rehabilitasi agar keduanya segera dapat kembali melayani masyarakat.
Kolaborasi dalam Revitalisasi Fasilitas Kesehatan
Proses pemulihan fasilitas kesehatan di Sumatera tidak berjalan sendiri. Menkes menyampaikan apresiasi atas dukungan berbagai pihak dalam proses revitalisasi tersebut.
Ia pun menyampaikan terima kasih kepada masyarakat, relawan, TNI, dan Polri dalam proses revitalisasi fasilitas kesehatan di Sumatera.
Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat keamanan, serta masyarakat menjadi kunci percepatan pemulihan. Dukungan tersebut mencakup distribusi bantuan logistik, tenaga medis tambahan, hingga perbaikan infrastruktur dasar.
Kolaborasi ini memperlihatkan bahwa pemulihan pascabencana memerlukan keterlibatan seluruh elemen bangsa. Tidak hanya infrastruktur fisik yang dibenahi, tetapi juga sistem layanan dan koordinasi agar lebih tangguh menghadapi situasi darurat di masa mendatang.
Fokus Keberlanjutan Layanan Kesehatan
Dengan kembalinya operasional rumah sakit dan hampir seluruh puskesmas, perhatian kini beralih pada optimalisasi layanan dan penguatan sistem kesehatan daerah terdampak. Pemerintah menekankan pentingnya memastikan bahwa fasilitas yang telah pulih dapat berfungsi secara maksimal dan berkelanjutan.
Pemulihan ini juga menjadi momentum evaluasi terhadap kesiapsiagaan fasilitas kesehatan menghadapi bencana. Upaya penguatan infrastruktur, ketersediaan alat kesehatan cadangan, serta sistem respons cepat menjadi bagian penting dalam perencanaan ke depan.
Bencana yang melanda Aceh, Sumut, dan Sumbar pada akhir November 2025 memberikan pelajaran penting mengenai ketahanan sektor kesehatan. Gangguan terhadap 130 rumah sakit dan ratusan puskesmas menunjukkan betapa vitalnya kesiapan infrastruktur medis dalam situasi darurat.
Kini, dengan seluruh rumah sakit telah kembali beroperasi dan hanya dua puskesmas yang masih dalam proses pemulihan, pemerintah berharap layanan kesehatan di wilayah Sumatera dapat berjalan normal kembali.
Dukungan anggaran, donasi masyarakat, serta kerja sama lintas sektor diharapkan mampu mempercepat pemulihan total.
Pemerintah berkomitmen memastikan masyarakat di wilayah terdampak tetap mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak.
Proses rehabilitasi yang terus berlangsung menjadi bagian dari langkah besar membangun kembali wilayah Sumatera yang terdampak bencana, sekaligus memperkuat sistem kesehatan agar lebih tangguh di masa depan.